Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Hari ini, saya berpikir keras untuk mengambil sikap.
Untuk mengambil keputusan dalam keadaan yang kacau balau ini memang sangat susah.
Masalah waktu, saya yakin suatu saat semuanya tidak akan pernah kembali seperti semula.
Saya mengerti bahwa akan selalu ada luka dalam hati seorang Bunda.
Saya, saya sangat paham dengan perasaan bunda.
Tapi saya, tak mampu memilih bagaimana untuk mengaplikasikan rasa paham saya itu.
Keputusan yang bagaimana yang harus saya pilih.
Sikap mana yang harus saya lakukan.
Bunda, kau prioritasku, kau bahagiaku, kau cahayaku.
Ayah, kau pahlawanku, pembelaku, kekuatanku.
Bahagialah selalu meskipun sudah banyak luka yang saya perbuat akhir2 ini.
Saya akan selalu berusaha untuk senyummu Ayah Bunda.
Selalu.
Amiinn
Wassalamu'alaikum wr. Wb.
Minggu, 12 Oktober 2014
Minggu, 05 Oktober 2014
Minggu, 5 oktober 2014
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Selamat petang.
Hari ini, dan tepat detik ini juga, saya sudah benar benar tidak mengetahui bagaimana cara saya menyikapi masalah yang saya hadapi.
Ketika seseorang dalam hidup saya, yang amat sangat saya cintai dan kasihi mulai memutuskan untuk tidak mengetahui segala sesuatu tentang diriku.
Di saat itulah aku merasa aku sendiri, aku merasa hampa, aku tau bahwa masih ada Dia, namun tidak berarti lagi hidup ini tanpa campur tangan dari seorang bunda.
Bunda, umur, jodoh dan rezeki hanya allah yang tau, dan aku yakin, bunda sangat paham dengan hal itu.
Tapi hati, juga tidak akan ada yg pernah tahu selain diri kita sendiri.
Aku merasa aku masih akan terus menjadi anak kecil yang akan selalu butuh sandaran atau pundakmu bunda.
Aku akan selalu ingat bagaimana berjuangnya kau dan ayah untuk selalu membuatku tersenyum dan bahagia.
Namun memang aku yg belum pantas untuk menjadi anak berbakti, belum pantas dihadapanmu untuk tertawa sedangkan hatimu selalu menangis melihat pilihan anakmu ini bunda.
Yang aku rasa, ini adalah tekanan ketika bunda memilih untuk terus berbuat seperti itu kepadaku, tapi ketika bunda memutuskan untuk berhenti, disitu pula tekanan itu menjadi bertambah besar layaknya tumor yang semakin besar akan semakin menguras energi kita.
Yang aku rasa, bunda merasa kesepian yang mendalam.
Yang aku rasa, bunda ingin selalu bersama buah hatinya.
Yang aku rasa, bunda selalu ingin melihat senyum anaknya ketika pagi tiba.
Percayalah bunda, akupun selalu ingin seperti itu.
Tapi aku tidak ingin kesenangan itu hanya akan ada di awal saja.
Aku justru ingin melakukan lebih dari hal itu, dan itu membutuhkan waktu, tenaga dan perasaan.
Bundaa, entah bagaimana lagi aku mengutarakan rasa sayangku ini ke bunda.
Jalan yang bunda putuskan ini aku tidak rela bunda, karena aku tau, lagi lagi buda mengorbankan perasaan bunda demi buah hati bunda.
Bunda, bunda, bunda, ini hanya masalah waktu dan pengorbanan.
Aku ingin bunda tau, aku mengorbankan waktuku untuk pengalaman pahit ataupun manis bunda, untuk masa depan yang aku prioritaskan kepadamu, seorang bunda dan seorang ayah.
Apabila ada resiko, aku siap menanggungnya.
Dan detik ini, aku bngung, aku menangisi bagaimana aku bisa melewati keputusan yang bunda buat hari ini.
Wassalamu'alikum Wr.Wb.
Selamat petang.
Hari ini, dan tepat detik ini juga, saya sudah benar benar tidak mengetahui bagaimana cara saya menyikapi masalah yang saya hadapi.
Ketika seseorang dalam hidup saya, yang amat sangat saya cintai dan kasihi mulai memutuskan untuk tidak mengetahui segala sesuatu tentang diriku.
Di saat itulah aku merasa aku sendiri, aku merasa hampa, aku tau bahwa masih ada Dia, namun tidak berarti lagi hidup ini tanpa campur tangan dari seorang bunda.
Bunda, umur, jodoh dan rezeki hanya allah yang tau, dan aku yakin, bunda sangat paham dengan hal itu.
Tapi hati, juga tidak akan ada yg pernah tahu selain diri kita sendiri.
Aku merasa aku masih akan terus menjadi anak kecil yang akan selalu butuh sandaran atau pundakmu bunda.
Aku akan selalu ingat bagaimana berjuangnya kau dan ayah untuk selalu membuatku tersenyum dan bahagia.
Namun memang aku yg belum pantas untuk menjadi anak berbakti, belum pantas dihadapanmu untuk tertawa sedangkan hatimu selalu menangis melihat pilihan anakmu ini bunda.
Yang aku rasa, ini adalah tekanan ketika bunda memilih untuk terus berbuat seperti itu kepadaku, tapi ketika bunda memutuskan untuk berhenti, disitu pula tekanan itu menjadi bertambah besar layaknya tumor yang semakin besar akan semakin menguras energi kita.
Yang aku rasa, bunda merasa kesepian yang mendalam.
Yang aku rasa, bunda ingin selalu bersama buah hatinya.
Yang aku rasa, bunda selalu ingin melihat senyum anaknya ketika pagi tiba.
Percayalah bunda, akupun selalu ingin seperti itu.
Tapi aku tidak ingin kesenangan itu hanya akan ada di awal saja.
Aku justru ingin melakukan lebih dari hal itu, dan itu membutuhkan waktu, tenaga dan perasaan.
Bundaa, entah bagaimana lagi aku mengutarakan rasa sayangku ini ke bunda.
Jalan yang bunda putuskan ini aku tidak rela bunda, karena aku tau, lagi lagi buda mengorbankan perasaan bunda demi buah hati bunda.
Bunda, bunda, bunda, ini hanya masalah waktu dan pengorbanan.
Aku ingin bunda tau, aku mengorbankan waktuku untuk pengalaman pahit ataupun manis bunda, untuk masa depan yang aku prioritaskan kepadamu, seorang bunda dan seorang ayah.
Apabila ada resiko, aku siap menanggungnya.
Dan detik ini, aku bngung, aku menangisi bagaimana aku bisa melewati keputusan yang bunda buat hari ini.
Wassalamu'alikum Wr.Wb.
Langganan:
Postingan (Atom)